 |
| Setelah tujuh tahun akhirnya langkah kaki membawaku kembali ke tapal
batas ini. Sejenak kuperhatikan suasana di seklilingku. Kibaran bendera
merah putih terpasang disana – sini, selain menandakan batas wilayah,
baru aku sadar rupanya negara ini sedang menyambut Hari Kemerdekaannya.
Bulan ini pertengahan Agustus aku kembali dari negeri tetangga. |
Goorkey.com - Sudah banyak perubahan yang terjadi
disini, Gedung usang yang dahulu tempat kami berdesakan dalam memperoleh
dokument, sudah digantikan dengan gedung baru yang modern, bersiah dan
luas. Kesan kotor dan kumuh sudah tidak tampak lagi. Bahkan kalau
dibandingkan negara tetangga yang sering mengejek ngejek tempat
kelahiran kami boleh dibilang mereka sekarang kalah jauh. Mungkin benar
kabar burung tentang negaraku yang sudah mulai berbenah dibawah
pemerintahan yang baru.
Keluar dari pintu gerbang bangunan megah
tersebut, suasana kehidupan rakyat perbatasan mulai terasa. Walaupun
sudah disentuh dengan pembangunan tetapi dibeberapa titik kesan
bersahaja dan sederhana masih tampak jelas. Aku mencari – cari bis yang
akan membawaku pulang ke desa. Ternyata belum berubah untuk hal ini.
Kendaraanya masih tetap sama, mobil tua dengan cat yang sudah tidak
tampak warnanya apa.
Sampai akhirnya tubuh lelahku kusandarkan
pada jok lapuk sebuah bis tua, aku duduk di kursi agak belakang agar
memudahkan apabila turun nantinya. Semerbak bau asap rokok langsung
menghampiri begitu aku hirup udara disekeliling. Ahhh. peduli amat
pikirku, mata dan fikiranku sudah terlalu lelah untuk melihat dan
merasakan itu semua. Pikiranku sekarang adalah segera sampai ke dusun
dan bertemu dengan si Inong anakku.
Sekali lagi kupastikan kepada supir dan
keneknya kemana tujuanku agar mereka dapat membangunkan atau setidaknya
memberitahu kepadaku, apabila lokasi sudah dekat. Dusunku itu memang
bukan berada di kota tapi agak jauh dari perbatasan kota. Dari jalan
besar masih masuk lagi sekitar satu jam memakai motor. Karena pastinya
akan tiba disana lewat tengah malam. Aku hanya berjaga – jaga kalau saja
aku tertidur atau terlewatkan dimana aku harus turun.
Setelah itu aku tidak bisa lagi menahan berat kedua mataku, aku tertidur…
“Ibu, aku tidak tahu harus berbuat apalagi, haruskah aku tolak atau terima tawaran ini ?” Tanyaku.
Wajah wanita tua dengan keriput dan rambut putih didepanku memandang ke luar jendela, nanar matanya memerah.
“Dengan kondisi kita saat ini, kita tidak akan bertahan lama.kita butuh uang Ibu. !!” Keras suaraku
“Si Inong sebentar lagi mau masuk SMP, kalau aku cuma bertahan disini,
Inong pasti tidak akan bersekolah lagi setelah tamat SD, Harga sawit
semakin turun, karet apalagi, kita bisa mati kalau terus begini !!”
Tanpa henti aku bersuara.
“Tapi dia terlalu kecil untuk kamu
tinggalkan, setelah suamimu pergi dengan wanita itu dan tidak kembali
lagi, tidakkah kamu kasihan apabila membayangkan dia harus hidup sendiri
tanpa orang tua ?” Jawab ibuku.
“Hidup tanpa kasih sayang ayah saja sudah berat bagi dia, apalagi
sekarang tidak ada seorang ibu di sisinya, apakah kamu tega kalau suatu
saat dia menangis karena ingin bertemu denganmu? Apa yang harus aku
katakan kepadanya?.” Tanya Ibuku.
Tak sanggup aku membayangkan hal itu akan
terjadi. Tetapi aku kembali sadar tidak boleh dikuasai kembali oleh
emosi sesaat, nalar dan logika harus kembali diutamakan. Semua sudah aku
pertimbangkan masak – masak. Aku tak mau anakku sama nasibnya
sepertiku, gadis desa yang tidak bersekolah, yang terlalu lugu sehingga
sebegitu bodohnya dimanfaatkan oleh lelaki dari kota hanya untuk
kepuasan sesaat .
Si Inong ini harus mendapatkan pendidikan
lebih baik dari Ibunya. Biarlah anakku ini mendapatkan kesempatan untuk
meraih masa depannya sendiri. Walaupun untuk itu kami harus berkorban,
terpisah jarak dan waktu. Demi untuk masa depannya aku siap bermandikan
tangis rindu setiap hari.
Entahlah siapa yang lebih bisa menahan
rindu itu nantinya, kerinduan seorang ibu akan anaknya atau kerinduan
anak kepada ibunya? Aku hanya takut bahwa pada saat itu tiba aku berada
dipihak yang kalah.
Malam itu sengaja kutemani Inong belajar, aku duduk dilantai
dibelakangnya sambil melipat baju yang siangnya dijemur, kuperhatikan
dari belakang setiap gerak tubuhnya dari ujung kepada sampai ujung kaki.
Melihat pemandangan dihadapanku tak terasa mataku mulai memerah dan
genangan air mata ini siap untuk tertumpah.
Inong sangat tekun dan rajin dalam
bersekolah, harus aku akui dia memang bukan anak terpintar di sekolahnya
bahkan dikelasnya dia juga bukan juara kelas, tetapi bukankah
kepintaran itu tidak menjamin kesuksessan seseorang? Yang aku tahu dari
Inong adalah dia adalah anak yang tekun dan mandiri. Tidak pernah aku
dengar dia mengeluh betapa sulitnya pelajaran disekolah
Dan yang terpenting dia pasti akan selalu
pulang ke rumah dengan senyuman mengembang, keceriaan tidak lepas dari
dirinya. Tidak juga dia keberatan setelah itu diminta bekerja membantu
kami di kebun atau membantu menyadap karet di kebun milik pabrik. Kadang
kami larang tetapi dia yang memaksa. Bosan dirumah sendiri, atau kadang
dia bilang, kasian mau bantu nenek saja.
“Udah malam Nong, besok lagi belajarnya…” Pintaku demi melihat jam dinding sudah menunjukkan jam 10 malam.
“Bentar lagi bu, tanggung masih dua halaman lagi, Inong mau selesaikan bacanya,…”Katanya tanpa menoleh.
“Ibu ngantuk?, Kalau ngantuk ibu tidur aja dulu dahulu, nanti Inong
nyusul, tapi lampu depan jangan dimatikan ya, soalnya jadi agak gelap
disini.” Kali ini dia melihat kearahku.
“Dak Nong, Ibu belum ngantuk, ibu mau menemanimu disini, sampai kamu selesai belajar.” Sambil kuanggukkan kepalaku.
Kembali Inong larut kedalam bacaannya, sampai akhirnya suaranya memecah keheningan.
“Bu, kalau besar nanti Inong mau jadi Polisi, boleh bu?”
Aku terhenyak akan pertanyaannya..
“Ohh tentu saja boleh dong , Inong mau jadi apa saja boleh, asal Inong harus rajin belajar.” Jawabku sekenanya.
“Bu, kalau jadi seorang polisi susah tidak sekolahnya ?” Tanyanya lagi.
Aku tidak bisa menjawab hal ini, jangankan sekolah Polisi sekolah biasa saja aku tidak tamat.
“Tidak ada yang susah didunia ini Nong, semua pasti bisa kalau kita rajin, jujur dan selalu berdoa.” Jawabku.
‘Mahal dak bu sekolah polisi ?” Tanya lagi, tapi kali ini pandangannya diarahkan kepadaku.
Aku terdiam untuk sekian lama….., tidak berani aku jawab pertanyaan ini.
Aku menyadari Inong adalah anak yang pintar. Aku tau dia pasti akan
bertanya terus sampai rasa keinginan tahunya terpuasakan.
“Dak mahal kok, yang penting Inong belajar aja yang rajin.., pasti bisa jadi Polisi”. Jawabku.
“Hmmm…..Okelah bu, udah selesai semuanya, PR dan tugas membaca sudah
selesai, kita tidur bu, sambil kakinya melangkah ke saklar lampu tak
jauh dari meja belajarnya.
“Aku matikan ya, lampunya?” Pintanya.
“Buku – buku sudah disusun semua”? Tanyaku
“Sudah beres semua.” Jawabnya
“Okelah kalau begitu, ini juga besok aja distrika belum kering benar baju – baju ini.” Jawabku.
Malam itu hujan mengguyur desa kami, Bau
tanah basah semakin membuat nyaman istirahat kami. Semakin erat juga
pelukan tanganku mendekap Inong. Anakku satu – satunya ini. Andai waktu
bisa diperpanjang ingin rasanya aku mohon kepada Sang Empunya Waktu agar
saat – saat seperti ini bisa kurasakan lebih lama.
Hari yang sebenarnya tidak aku kehendaki kedatangannya akhirnya tiba
juga. Sudah aku kakatakan sebelumnya kepada yang menjemputku untuk agak
siang saja menjemputku, aku ingin menunggu anakku Inong pulang dari
sekolah dulu. Tetapi ternyata rombongan penyemput usah tiba duluan.
Awalnya mereka bersikeras untuk segera berangkat, karena alasan takut
gangguan di jalan sehingga pintu gerbang akan ditutup sebelum kita tiba.
Dengan setengah memohon aku minta kepada mereka, untuk menunggu
setengah jam lagi.
Lewat setengah jam, aku mulai gelisah,
Inong belum pulang juga, aku bersikeras menunggu anakku, tetapi mereka
juga bersikeras kalau masih menunggu ya ditinggal saja.tidak ingin ambil
resiko Aku bingung. Akhirnya dengan kesepakatan bersama aku bersama
mobil rombongan singgah sebentar kesekolah Inong, dari sana ada atau
tidak ada Inong mobil langsung berangkat. Sepakat.
Sejurus kemudian kupeluk erat – erat ibuku yang dari tadi menemani disisiku, hanya satu kata terucap dari bibirku…
”Titip Inong ya Bu”. Pintaku…
Ibuku tak menjawab apa- apa, hanyalah terasa tangan keriputnya mengelus
ubun – ubun kepalaku berulang – ulang. Kulepas pelukankanku, kulihat
mata tua itu memerah, kuperhatikan rumah panggung kami. Lalu kulambaikan
tanganku ke beberapa tetangga yagn kebetulan berada di rumah. Sebelum
aku masuk kedalam mobil.
Kumasuki gerbang sekolah yang sudah sepi,
ternyata sekolah memang sudah bubar seperti biasanya, , Dengan sedikit
berlari aku langsung menuju ke ruang para guru. Disana aku lihat Inong
dan tiga rekannya sedang duduk dihadapan beberapa guru. Tanpa berfikir
panjang langsung kupeluk anakku.
“Maaf Bu guru. Ada apa dengan anak kami, apakah mereka dihukum?” Tanyaku
“Oh Bu Lastri, kebetulan ibu datang, maaf sebelumnya tidak memberitahu
sebelumnya, inipun mendadak, kami baru saja mendapatkan pengumuman tadi
pas sedang pelajaran, sehingga kami pikir akan memberitahu yang
bersangkutan setelah selesai waktu sekolah.makanya mereka kami kumpulkan
disini.” Jawab Ibu kepala sekolah
“Ada apa bu?” tanyaku.
“Tentang anak – anak kita ini, Inong dan teman – temannya, Ini ada
permintaan dari Provinsi mengingkan sekolah kita untuk mengirimkan
wakil- akilnya untuk tampil menari dihadapan Bapak Presiden yang bakal
berkunjung ke Ibukota Propinsi bulan depan. Nah katanya bapak Presiden
ingin anak – anak yang menari itu perwakilan dari SD – SD yang ada
dipedalaman, Nah kebetulan SD kita terpilih.”
‘Karena kami melihat selama ini Inong
berbakat dalam bidang tersebut, kami coba mengusulan Inong dan empat
temannya untuk dikirim ke Ibu kota, Akan ada semacam pelatihan selama
seminggu disana. Tentunya kami dari pihak sekolah akan selalu
mendampingi selama disana, untuk itulah kami ingin mmberitahukan ini
kepada anak – anak untuk supaya mereka minta ijin kepada orang tuanya.
Rencana besok kami ngingin minta ijin kepada orang tua masing – masing,
kebetulan ibu disini sekalian saja kami minta ijinnya.”
Tak kuasa kutahan lagi air mata ini,
sambil kupeluk erat anakku. Kata- kata dari mulut SI inong semakin
membuatku tidak bisa berkata – kata lagi..
“Ibu jadi pergi hari ini?” tanyanya datar…
“Jadi Nong.. itu mobil sudah ada di depan, Ibu tunggu Inong dari tadi dirumah, makanya ibu nyusul kesini..”.
Akhirnya aku minta waktu sebentar untuk
berbicara dengan Ibu kepala sekolahnya, kuceritakan dengan singkat bahwa
aku akan pergi bekerja keluar negeri saat ini, pada saat itu juga aku
menitipkan anakku kepada mereka. Terkejutlah para guru mendengar apa
yang aku ceritakan, karena sangat jarang para wanita disini yang mau
berjuang untuk mencari uang sampai berpisah dengan anaknya, sampai harus
merantau ke negeri orang.
Perkataan seorang guru ini setidaknya membuat sedikit bebanku menjadi ringan.
“Tenang bu, Inong, bukan anak yang manja, dia anak yang tekun dan mau
belajar, kami berjanji mendidik dia semampu kami, lihatlah dia, bahkan
dia lebih tegar dari kita semua disini.”
Kupeluk erat anakku untuk terakhir kali,
sampai kering rasanya air mata ini mengalir, ku kecup berulang – ulang
keningnya berulang – ulang, Kepeluk lagi….
“Tinnnn….tinnnn….. tinnnn….” suara panjang klason mobil menggejutkanku…
Aku sadar saat inilah saat harus berpisah
kusalami satu persatu guru diruangan itu, lalu kugandeng tangan Inong
menuju kearah mobil rombongan. Kegenggam erat tangannya… sampai
mendekati pintu mobil.
Kupeluk erat sekali lagi anakku… sambil kubisikan kata kekuping
mungilnya….”Maafkan Ibumu ini anakku.” Serak suaraku saat mengucapkan
itu.
“Ibu Hati – hati disana, cepat pulang ya..” Jawabnya…
Pintu ditutup, mobil melaju dengan kencang… aku hanya tertunduk tidak berani lagi melihat kebelakang…